Minggu, 19 Februari 2012

RESENSI: DEKRIT TENTANG EKUMENE (Oleh: Weren Taseseb)





 BUKU I



I.       PENDAHULUAN

      Sejak dulu Gereja Katolik dikenal sebagai Gereja yang satu, dan kesatuan ini merupakan salah satu tujuan dari Konsili Vatikan II. Kristus lahir ke dunia, wafat, kemudian bangkit dan kembali kepada Bapa-Nya dengan meninggalkan para rasul sebagai perintis pertama Gereja dengan Petrus sebagai pemeran utama dalam kelompok para rasul. Sebagai pemimpin, Petrus mencoba memimpin para rasul yang lain dan jemaat perdana untuk tampil memberi kesaksian tentang Kristus itu sendiri. Dalam merintis semuanya ini, Petrus dan para rasul yang lain serta jemaat perdana pasti tidak luput dari berbagai macam tantangan dan cobaan yang membutuhkan pengorbanan yang luhur.
      Kendatipun demikian, mereka tidak pernah takut untuk mengambil resiko. Kesatuan selalu dijaga dan dipelihara dengan baik. Di sini Allah yang adalah kekal juga sangat berperan dalam mempersatukan Gereja. Allah sama sekali tidak melihat keberdosaan manusia, Ia selalu memberikan rahmat-Nya melalui Roh Kudus untuk melindungi Gereja. Tak dapat disangkal bahwa perkembangan zaman pun turut mempengaruhi perkembangan Gereja.
      Gereja yang pada awalnya satu, kini terbagi dalam beberapa bagian dengan cara hidup atau ritus yang berbeda. Walaupun masing-masing memiliki cara hidup tersendiri namun hampir semua mencita-citakan Allah yang satu dan kelihatan, yang benar-benar universal dan diutus ke dunia, untuk memberi kesaksian tentang Injil demi kemuliaan Allah.
      Konsili Vatikan II melihat hal ini penuh pertimbangan dan ingin memulihkan persatuan Gereja dengan menganjurkan kepada semua orang katolik beberapa sarana, cara dan jalan demi menanggapi panggilan Allah. Maka dalam mempertimbangkan hal ini, Konsili mengemukakan beberapa poin penting yang sangat mendukung perkembangan dan persatuan Gereja.

II.    AZAS-AZAS EKUMENE KATOLIK

      Yesus Kristus diutus ke dunia untuk menyelamatkan umat manusia dengan mengurbankan diri-Nya sendiri di salib, dengan wafat-Nya ini Gereja dihimpun menjadi satu melalui darah-Nya dan inilah tanda cinta kasih Allah yang sangat besar bagi manusia.   Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus sebagai hadiah, yang datang setelah kenaikan-Nya ke surga dan Roh itulah yang akan selalu mendampingi Gereja dalam perkembangannya. Gereja yang satu dihimpun dalam satu iman dalam Kristus. Roh yang sama juga menghubungkan kemesraan Gereja dengan Kristus sehingga Kristus sebagai azas pemersatu dalam Gereja.
      Setelah kenaikan-Nya ke surga Yesus tidak melupakan para rasul yang masih melanjutkan kesaksian-Nya di bumi. Sebagai wujud manusia Dia telah tiada, tetapi sebagai Allah Dia tetap tinggal dan bersama mereka karena Dia ingin agar Gereja-Nya tetap bersatu dan semakin berkembang dalam nama-Nya. Gereja yang pada awalnya dikepalai oleh Petrus akhirnya berkembang dan kedudukan Petrus pun tetap tergantikan oleh Paus dan para uskup lain sebagai pangganti rasul-rasul yang lain. Walaupun mereka tidak selalu hidup bersama dalam satu tempat, namun mereka tetap bersatu dalam iman dengan berlandaskan pada kesatuan Allah yang Esa walaupun terdiri dari tiga pribadi yakni Bapa, Putera dan Roh Kudus.
      Sejak awal Gereja telah mengalami perpecahan dalam arti bahwa ada persekutuan-persekutuan tertentu yang menarik diri dari kesatuan Gereja Katolik. Dari perpecahan-perpecahan ini terbentuklah persekutuan baru tetapi hidup mereka tetap berpedoman pada Yesus. Gereja Katolik tidak melihat hal ini sebagai pembangakit kebencian, Gereja berusaha merangkul persekutuan-persekutuan ini sebagai saudara. Maka salah satu cara untuk mengatasi tidak terjadinya perselisihan antara Gereja dan persekutuan-persekutuan tersebut adalah dengan gerakakan ekumene. Roh Kudus pun tidak melihat perpecahan yang tidak sempurna ini tetapi dilihat sebagai sarana penyalur rahmat keselamatan kendatipun sebagai manusia, Gereja dan persekutuan-persekutuan ini tidak pernah luput dari dosa. Roh Kudus tetap membimbing dan menuntun kedua kelompok ini menuju Yerusalem surgawi.
      Dewasa ini rahmat Roh Kudus mendorong orang untuk bersatu sesuai dengan apa yang dikehendaki Kristus. Maka dalam konsili ini, semua orang katolik diajak untuk mengenal tandat-tanda zaman dan giat dalam kegiatan ekumene. Dengan “gerakan ekumene” yang dimaksudkan adalah untuk memprakarsai hal-hal yang sesuai dengan kebutuhan Gereja masing-masing dari zaman ke zaman. Salah satu tujuannya adalah untuk memupuk persatuan dan kesatuan semua umat kristen, misalnya; menjauhkan segala bentuk prasangka atau penilaian negatif terhadap umat beragama yang bukan katolik, dialog antaragama yang dan lain sebagainya yang dapat menambah pengetahuan-pengetahuan baru bagi sesama umat kristen.
      Melalui kegiatan ini juga dapat diciptakan hubungan kerjasama antaragama demi kepentingan bersama. Namun perlu diingat bahwa untuk menjalin kerjasama perlu ada keikhlasan dan keterbukaan hati nurani. Dalam kegiatan ekumene, semua umat katolik juga dituntut untuk memberikan perhatian kepada saudara-saudarinya yang hidup terpisaha dari kalangannnya dengan doa dan komunikasi. Dan juga membutuhkan kejujuran hidup dalam keluarga-keluarga katolik dengan tujuan agar dapat memberikan kesaksian hidup bagi orang lain.
      Oleh sebab itu, semua orang katolik harus mengusahakan kesempurnaan kristen seturut keadaannya agar mendukung kerendahan hati Yesus sendiri yang diperbaharui hari ke hari, sampai Ia tampil dengan jaya tanpa noda dan cela. Di samping mempertahankan kesatuan Gereja, semua umat harus juga mempertahankan kebebasan yang wajar sesuai dengan tugas masing-masing. Hal ini dapat dilakukan dalam berbagai bentuk kehidupan spiritual, ketertiban hidup maupun dalam keanekaragaman ritus dalam liturgi serta dalam hal-hal yang bersifat teologis dan kebenaran-kebenaran. Salah satu cara untuk mencapai semuanya ini yaitu harus disertai dengan cinta kasih. Karena melalui cinta kasih, kekatolikan dan keapostolikan Gereja makin disempurnakan dalam perkembangannya setiap waktu.
      Jika dilihat dari pihak lain, orang katolik harus dengan senang hati menghargai harta dan warisan bersama sekalipun dimiliki oleh orang yang bukan katolik. Orang katolik juga harus berani bersaksi tentang Kristus sekalipun harus menumpahkan darah demi nama-Nya yang kudus.
      Perpecahan yang sudah terjadi sejak dahulu dilihat oleh Gereja sebagai sesuatu yang tidak bertentangan dengan iman, namun di lain sisi perpecahan ini merupakan suatu hambatan bagi Gereja dalam beberapa segi, jika dilihat dari ritus-ritus yang digunakan oleh saudara-saudari yang terpisah dari Gereja Katolik.


III. PELAKSANAAN EKUMENE

            Keprihatinan untuk memulihkan kesatuan Gereja merupakan urusan dan tanggungjawab dari seluruh Gereja, baik para pemimpin maupun umat sendiri. Dengan demikian tampaklah kesatuan seluruh Gereja yang satu, hidup dalam persaudaraan sejati sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam perjalanan dan perkembangannya, Gereja dituntut untuk setia karena dipanggil oleh Allah demi pembaharuan yang terus-menerus berlanjut dari zaman ke zaman. Perubahan-perubahan ini sangat jelas tampak dalam bidang liturgi, katekese, kerasulan, hidup membiara dan sebagainya. Kegiatan Gereja yang memasyarakat menandakan bahwa harapan akan ekumene di masa mendatang sangat didambakan oleh Gereja.
      Perlu diingat bahwa gerakan ekumene akan dikatakan sebagai gerakan yang “sejati” jika disertai dengan pertobatan batin. Maka kita sebagai orang katolik harus meminta rahmat dari Roh Kudus agar jujur, rendah hati dan terbuaka dalam melayani orang lain sebagai saudara, sebagaimana apa yang dilakukan oleh Kristus sendiri ketika berkarya di dunia.
      Pertobatan hati setiap orang harus dianggap sebagai jiwa dari gerakan ekumene itu sendiri dan layak disebut ekumene spiritual. Dalam keadaan-keadaan tertentu, orang-orang katolik perlu mendoakan doa kesatuan yang isinay menyangkut kesatuan seluruh umat beriman. Namun dalam hal-hal yang sangat sakral, hendaknya tidak dipandang begitu saja sebagai alat pemulih kesatuan umat kristen seluruhnya.
      Untuk hidup bersatu dengan saudara-saudari yang terpisah, kita juga dituntut untuk mengenal jiwa mereka yang terpisah. Maka perlu study khusus tentang hal ini dengan tujuan dapat mendalami tata cara hidup mereka dari berbagai segi. Perlu juga pertemuan-pertemuan antaragama terutama dalam mebahas masalah-masalah teologi. Namun perlu dihindari sikap angkuh dalam pertemuan-pertemuan tersebut.
      Dalam gerakan ekumene juga perlu adanya pemahaman tentang ilmu-ilmu sejarah dan teologi terutama bagi para imam. Ilmu-ilmu ini harus diolah dan dikembangkan secara wajar terutama menyangkut hal-hal yang didalamnya terdapat hubungan antara Gereja dan persekutuan lain.
      Perlu disadai juga bahwa jalan dan cara mengungkapkan iman katolik tidak boleh menghalangi dialog antaragama. Apa yang dipaparkan tentang iman katolik harus menunjukkan kebenaran, jelas dan dapat dipahami atau diterima oleh mereka yang terpisah. Cara yang tepat untuk membandingkan ajaran iman masing-masing, para pemimpin harus jelas mengungkapkan inti ajarannya dan perlu dihindari sikap persaingan dalam gerakan ekumene. Hendaknya semua umat kristen berani mengakui inti imannya kepada semua bangsa di dunia. Apa yang diungkapkan adalah bahwa mereka percaya kepada Tritunggal yaitu Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dan sebagai kesaksian; Putera adalah Sang Penebus yang dilahirkan sebagai manusai demi menyelamatkan umat manusia yang percaya kepada-Nya.
      Ungkapan ini harus benar-benar murni dan perlu adanya dukungan satu sama lain dalam penyampaiannya sehingga tidak menimbulkan kekecewaan bagi mereka yang mendengar atau menerimanya, terutama di daerah-daerah yang sedang terjadi persaingan ketat dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Dengan adanya kerjasama Gereja dalam membari kesaksian, semua orang yang percaya kepada Kristus dapat belajar dan tahu serta memahami bagaimana setiap individu dapat mengenal dan menghargai sesamanya. Dengan demikian dapat terintislah jalan ke arah kesatuan kristen yang sempurna.

IV. GEREJA-GEREJA DAN PERSEKUTUAN KEGEREJAAN YANG TERPISAH DARI TAKHTA APOSTOLIK ROMA

            Dalam uraian ini akan tampak perpecahan terbesar dalam Gereja pada awalnya. Perpecahan ini adalah perpecahan Timur dan Barat dan ini tercatat dalam sejarah Gereja Katolik yang tidak akan terlupakan. Perpecahan pertama adalah perpecahan yang terjadi di Timur. Masalah utama terjadinya perpecahan ini karena adanya perumusan dogmatis dalam Konsili Efesus dan Kalsedon serta putusnya hubungan antara para pemimpin Timur dan Takhta Apostolik Roma.
      Perpecahan yang kedua adalah perpecahan yang terjadi di Barat. Perpecahan ini terjadi beberapa abad kemudian setelah terjadinya perpecahan di Timur. Penyebab terjadinya perpecahan ini yaitu gerakan Reformasi dalam Gereja atau pembaharuan dalam Gereja. Dengan adanya gerakan Reformasi ini, muncullah persekutuan-persekutuan baru yang disebut dengan Gereja Anglikan, Protestan dan sebagainya.
            Dari persekutuan-persekutuan ini hanya Gereja Anglikan saja yang boleh dikatakan masih tetap mempertahankan tradisi dan struktur katolik dalam Gerejanya. Walaupun telah terpisah dari Gereja Katolik, namun Gereja tidak melihat perbedaan  ini sebagai jurang pemisah. Maka dalam Konsili Vatikan II, diputuskan untuk mengajukan pertimbangan-pertimbangan dalm rangka pelaksanaan kegiatan ekumene yang bijaksana.

Pertimbangan Khusus Mengenai Gereja-Gereja Timur

      Sejarah mencatat bahwa selama beberapa abad, Gereja Timur dan Barat menjalani hidup sendiri-sendiri kendatipun masih terikat dalam hubungan persaudaraan, iman dan sakramen. Sejak awal Gereja Timur berdiri atas dasar para rasul, maka tidak mengherankan jUknXhf!tama yang dipertahankan adalah hubungan persudaraan dalam persekutuan iman dan cinta kasih. Tak dapat disangkal bahwa Gereja Timur juga memiliki harta dalam arti kekayaan dalam bidang liturgi, tradisi dan hukum.
      Walaupun telah terpisah namun Gereja di Barat tetap mengambil beberapa “kekayaan” dari gereja Timur. Dogma-dogma dari gereja Timur yang tidak diterima oleh Gereja Barat, tidak bisa dianggap sepeleh karena itulah dasar iman kepercayaan di Gereja Timur. Salah satu inti dogma di Timur adalah bahwa Sabda Allah menjadi daging dan dilahirkan dari Perawan Maria.
      Selain itu dengan berbagai bentuk dan cara, Gereja menerima apa yang telah diwariskan oleh para rasul sehingga disampaikan dengan cara yang berbeda sesuai dengan situasi dan juga pemahaman dari mereka yang menyampaikannya. Semua orang pasti tahu bagaimana orang-orang dalam Gereja Timur menjalankan liturgi khususnya perayaan Ekaristi. Hal ini dikarenakan, Gereja Timur melihat Ekaristi sebagai puncak, sumber dan jaminanhidup pada masa yang akan datang. Di dalam Ekaristi yang dilakukan, Gereja bersatu dengan para pemimpin perayaan di dalam satu tubuh yaitu Kristus sendiri. Dalam persatuan ini, Gereja mengenangkan sengsara, wafat dan kebangkitan Sabda yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan umat manusia yang percaya kepada Allah.
      Selain perayaan Ekaristi, sesuai dogma dalam Konsili Efesus tentang Maria sebagai Bunda Allah, Gereja Timur juga mengagungkan Perawan Maria melalui doa dan ibadat yang mereka lakukan. Orang-orang kudus yang telah meninggal pun tetap diperingati dan dihormati serta diagungkan dalam doa-doa dan ibadat-ibadat. Gereja-gereja yang terpisah tidak bisa desepelehkan terutama dalam sakramen-sakramennya yang benar misalnya sakramen imamat dan ekaristi. Karena sakramen-sakramen inilah yang masih menghubungkan mereka dengan kita. Maka hubungan-hubungan sakral seperti ini patut dilihat sebagai sesuatu yang sangat pasti dianjurkan bukan hanya berupa suatu kemungkinan saja.
      Di Timur, Gereja kaya akan tradisi spiritual yang kemudian terwujud melalui hidup para pertapa yang makin berkembang dan akhirnya sampai ke Barat. Hidup semacam ini memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Yang Ilahi sehingga perlu disadari betapa kayanya spiritualitas yang terdapat dalam Gereja Timur dan Barat. Dan sangat perlu dihargai dan dihormati cara hidup seperti ini khususnya dalam mewujudnyatakannya.
      Hidup terpisah atau hidup bertapa, sudah sejak awal disahkan dan diakui oleh Bapa-Bapa Kudus terutama dalam Gereja Timur. Cara hidup semacam ini walaupun terpisah namun sama sekali tidak menghambat kesatuan dalam Gereja. Keterpisahan hanya sebatas fisik atau jasmani saja, sedangkan jiwa tetap bersatu dalam iman akan Kristus sebagai pemersatu. Wewenang dalam Gereja Timur juga sangat berperan mengatur tata tertib hidup dalam Gereja sejauh masih berjalan dalam kebenaran. Ajaran-ajaran yang bersifat teologis dalam kedua Gereja ini memang memiliki perbedaan jika dikaji lebih dalam, namun sebaiknya perbedaan ini jangan dijadikan sebagai suatu pertentangan tetapi harus dianggap sebagai hal yang saling melengkapi.
            Tradisi-tradisi dalam Gereja Timur yang ada sejak duhulupun dikembangkan dan diungkap dalam hidup liturgi. Dalam konsili ini sangat disyukuri karena Gereja mau memelihara dan menghayatinya penuh kemurnian. Maka ditegaskan dalam konsili bahwa semua tradisi yang diwariskan sejak dahulu wajib dimasukkan dalam kekatolikan dan keapostolikan Gereja sepenuhnya. Bapa-bapa konsili ini juga berusaha memperbaharui apa yang telah diputuskan dalam konsili-konsili terdahulu, sehingga beban yang tidak perlu dengan sendirinya tersingkirkan. Konsili juga kembali menegaskan persatuan dalam lembaga-lembaga Gereja terutama dalam doa dan dialog antarsesama umat. Dan juga dalam pelayanan pastoral pada zaman yang semakin mendesak dan membutuhkan keprihatinan Gereja. Para pemimpin Gereja juga dianjurkan agar tetap menjalin hubungan dengan mereka yang telah terpisah dari Timur agar Roh Cinta Kasih tetap tumbuh dalam diri mereka dan juga dapat terlepas dari ikatan perselisihan dan persaingan. Dengan demikian konsili sangat berharap agar jurang pemisah antara Gereja Timur dan Barat bisa runtuh dan tercipalah suatu kesatuan di dalam Kristus sebagai batu penjuru.

Gereja-Gereja Dan Persekutuan Kegerejaan Yang Terpisah Di Barat

            Gereja-gereja yang berada di Barat sejak akhir abad pertengahan dan sesudahnya telah terpisah dari Takhta Apostolik Roma. Salah satu alasan mereka memisahkan diri karena pada saat itu Gereja berada adalam situasi yang boleh dikatakan gelap atau tak terarah. Akan tetapi persekutuan-persekutuan ini sejak awal telah memiliki perbedaan baik dengan Gereja Timur maupun antara mereka sendiri maka sangat sulit diungkapkan atau dilukiskan keadaan dan situasi diantara mereka sendiri. Kendatipun gerakan ekumene dan semangat perdamaian dengan Gereja belum berkembang di man-mana namun sangat diharapkan agar lambat laun semanagt ini dapat bertumbuh dalam diri setiap orang kristen.
      Perlu diakui juga bahwa perbedaan yang sangat besar terdapat antara  persekutuan-persekutuan ini dan Gereja katolik. Perbedaan ini sangat jelas dalam cara bagaimana menafsirkan kebenaran dari Allah sendiri. Jadi perbedaan-perbedaan yang ada bukan saja sebatas sejarah, sosiologis, psikologis dan hukum. Agar dalam gerakan ekumene tidak terjadi pertentangan, perlu dicari cara yang dapat menciptakan kedamaian dalam gerakan tersebut.
      Hal yang pertama-tama dilihat adalah pengakuan orang-orang kristen akan Kristus sebagai pengantara manusia denga Allah. Diakui juga Allah yang Esa; yang terdiri dari Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sementara peranan Maria jelas memiliki perbedaan karena hanya Gereja Timurlah yang sangat menghormati dan menghargai peranan Maria yang begitu besar dalam kehidupan Gereja.
            Persekutuan-persekutuan yang memisahkan diri dari Gereja tidak begitu melihat peranan Maria sebagai Bunda Tuhan. Namun mereka tetap percaya kepada Kristus sebagi penyelamat dosa manusia sehingga mereka juga dituntut untuk memberikan kesaksian tentang iman mereka di mana-mana.
      Perasaan cinta dan hormat kepada Kitab Suci mendorong persekutuan-persekutuan ini untuk membaca dan mempelajari ayat-ayat Kitab Suci karena Kitab Suci dianggap sebagai “ kekuatan Allah yang dapat menyelamatkan orang yang percaya kepadanya. Dalam mempelajari Kitab Suci, mereka berusaha memohon bantuan Roh Kudus sehingga apa yang mereka pelajari seolah-olah merupakan dialog langsung antara Allah dan manusia. Hal utama yang mereka pelajari adalah kehidupan Kristus sampai pada sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Penafsiran dan pemahaman mereka tentang isi Kitab Suci juga memiliki perbedaan dengan penafsiran dan pemahaman Gereja.
            Permandian yang diterimakan kepada masing-masing orang kristen mau menunjukkan suatu kelahiran baru. Di sini manusia dipersatukan bersama Kristus dan dilahirkan kembali melalui darah-Nya yang ditumpahkan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya. Permandian juga sebagai tanda kebangkitan baru bersama Kristus. Maka permandian merupakan ikatan persatuan sakramental yang berlaku bagi semua orang yang dilahirkan kembali oleh-Nya.
            Melalui sakramen, orang diarahkan pada pengakuan iamn yang utuh dan dihantar pada keselamatan sesuai kehendak Kristus yang akhirnya digabungkan dalam Ekaristi. Mereka yang terpisah tidak memiliki kesatuan penuh dengan kita dalam permandian. Alasannya adalah mereka tidak utuh dalam Ekaristi dan juga tidak memiliki sakramen imamat. Walaupun mereka juga mengaku bersatu dengan Kristus dalam perjamuan kudus yang dikenangkan melalui wafat dan kebangkitannya sehingga kedatangan-Nya yang mulia juga mereka nantikan.
            Dengan mendengar Sabda Allah dan oleh iman, kehidupan kristen saudara-saudari ini terpelihara dan berkembang. Wujud nyata dari kehidupan ini dinyatakan lewat doa pribadi, renungan Kitab Suci, hidup kekeluargaan sejati dan dalam ibadat bersama. Iman mereka akan Kristus menghasilkan pujian dan syukur atas kebaikan Allah kepada mereka di samping semangat cinta kasih mereka kepada sesama.
            Sekalipun iman mereka tetap aktif, namun tidak dapat mengatasi kemiskinan rohani dan jasmani serta menjadikan keadaan hidup sosial menjadi lebih manusiawi dan memantapkan perdamaian di mana-mana. Meskipun diantara mereka terdapat banyak orang yang tidak memahami Injil dari segi moral dan tidak menerima penyelesaian masalah-masalah masa kini, mereka juga ingin menghayati Sabda Kristus sebagai sumber keutamaan. Dan dari sinilah penerapan ekumene di bidang moral dimulai.
      Dalam konsili ini juga ditegaskan kepada umat agar dapat menahan diri terhadap kecerobohan dan perbuatan yang tidak bijaksana yang dapat merugikan kesatuan yang didambakan. Karena kegiatan ekumene harus bersifat katolik dan jujur, setia pada kebenaran yang diterima dari para rasul dan para Bapa Gereja yang disejajarkan dengan iman yang diakui oleh Gereja.
      Konsili juga berharap agar putera-puteri Gereja maju bersama persekutuan-persekutuan yang terpisah tanpa menghambat rahmat penyelenggaraan dan dorongan Roh Kudus di masa depan. Disadari juga bahwa niat untuk mencapai kesatuan melampaui batas kemampuan manusia maka sangat diharapkan doa Kristus untuk Gereja dalam cinta kasih denagn Bapa dan kekuatan Roh Kudus.


BUKU II

SURAT KEPADA SENIMAN-SENIWATI

      Seniman, Citra Allah Sang Pencipta

            Tidak seorang pun dapat merasakan secara lebih mendalam seperti apa yang dilihat oleh para seniman-seniwati. Pencipta-pencipta kreatif ini memandang segala sesuatu dari karya ciptaan Allah sendiri. Segala sesuatu yang dituangkan oleh para seniman-seniwati merupakan gema dari apa yang mereka tangkap melalui indera mereka sendiri. Daya tengkap mereka dapat berupa bunyi-bunyian, kata-kata, warna-warni dan bentuk-bentuk yang kemudian dituangkan sesuai apa yang dirasakan atau dialami.
            Dalam Kitab Kejadian, Allah dilihat sebagai teladan bagi siapapun yang menghasilkan karya: perajin seni manusiawi yang mencerminkan citra Allah sebagai Sang Pencipta. Perbedaan “Sang Pencipta” dan “perajin seni”. Sang Pencipta mengadakan sesuatu dari ketiadaan sedangkan perajin seni mengadakan sesuatu dari yang sudah ada. Ini merupaka ciri khas manusia sebagai ciptaan Allah yang istimewa tetapi masih jauh dari kesempurnaan. Dalam kisah penciptaan; setelah Allah menciptakan manusia sebagai ciptaan terakhir, Dia memberi kepercayaan penuh kepada manusia untuk menguasai segala macam ciptaan yang telah ada di bumi. Oleh karena itu Allah memanggil manusia ke dalam eksistensinya sambil memberikan kepadanya tugas sebagai perajin seni.
      Allah memberikan pengetahuan kepada manusia untuk mengembangkan kreativitasnya melalui akal budi yang telah diberikan oleh Allah sendiri.  Di sini tampaklah suatu hubungan yang sangat dekat antara manusai dengan Allah sabagai Sang Pencipta. Inilah alasan mengapa kaum seniman-seniwati, semakin menyadari betapa berartinya “hadiah” dari Allah dan mereka dihantar untuk memandang diri mereka bersama alam ciptaan melalui penglihatan. Dan juga mampu mensyukuri apa yang telah mereka peroleh sebagai suatu panggilan dan misi dari hidup mereka.

      Panggilan Khusus Seniman-Seniwati

      Kita tahu bahwa tidak semua orang dipanggil untuk menjadi seniman atau seniwati dalam arti yang sebenarnya. Namun jika dilihat dari Kitab Kejadian, semua orang dipercayai oleh Allah untuk mengembangkan hidup mereka sendiri dalam arti menjadikan karya seni sebagai sesuatu yang ulung. Kegiatan manusia dalam bidang seni dapat dilihat dari dua aspek yang berbeda. Di lain sisi, manusia bertindak sebagai pelaku seni itu sendiri dengan penuh tanggungjawab dengan nilai moralnya. Sementara di lain sisi, manusia menjadi seniman atau seniwati dalam arti bahwa manusia mampu menanggapi tuntutan-tuntutan kesenian dan mampu menerima tuntutan-tuntutan ini. Itulah yang menjadikan seniman-seniwati mampu menghasilkan objek-objek namun belum dapat mengatakan apa-apa tentang sifat moralnya. Walaupun ada perbedaan mendasar antara moral dan artistik, namun keduanya sangat berhubungan erat satu sama lain.
            Dalam menghasilkan suatu karya seni, para seniman mengungkapkan diri apa adanya melalui apa yang dihasilkan. Dalam menciptakan karya yang ulung, seniman-seniwati tidak hanya memunculkan karya mereka dalam keberadaan, tetapi dalam arti tertentu diri mereka ditampilkan melalui karya itu sendiri. Bagi mereka seni menyajikan suatu dimensi baru dan corak pengungkapan yang luar biasa bagi pertumbuhan rohani mereka. Apa yang mereka lukiskan atau mereka gambarkan dalam karya mereka, merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan sesama secara tidak langsung. Maka sejarah kesenian bukan hanya sekedar cerita-cerita belaka tetapi banyak unsur dan makna yang terkandung di dalam karya seni itu sendiri.

Panggilan Kesenian Melayani Keindahan

            Semua ciptaan oleh Allah, dilihat oleh Allah sendiri sebagai segala sesuatu yang baik sekaligus indah. Kedua hal ini pasti akan menimbulkan suatu refleksi baru tentang kesuburan. Hidup manusia sangat berhubungan dengan keberadaan, kebenaran dan kebaikan.dalm arti yang sebenarnya, keindahan merupakan panggilan, rahmat dan anugerah Tuhan yang diberikan kepada seniman-seniwati. Ini merupakan bakat dan talenta yang perlu dikembangkan dengan tujuan menghasilkan buah.
      Mereka yang mendapat keilahian ini; panggilan artistik sebagai penyair, pengarang, pemahat, arsitek, pemain musik, pemain sandiwara dan sebagainya, berkewajiban tidak menghamburkan talenta itu. Harus dikembangkan agar mengabdikannya kepada sesama dan umat manusia secara keseluruhan.

Seniman-Seniwati dan Kepentingan Umum

      Semua lapisan masyarakat pasti sangat membutuhkan seniman-seniwati sebagaimana mereka mebutuhkan ahli-ajli dalam bidang yang bukan seni. Masing-masing seniman-seniwati termotivasi untuk memperkaya budaya dari daerah mereka sendiri sehingga jasa mereka dianggap sebagai suatu pelayanan sosial bagi masyarakat demi kepentingan umum.
            Panggilan hidup seperti ini merupakan suatu bentuk pelayanan sekaligus tugas yang diemban dengan penuh tanggungjawab. Mereka juga tentunya mengerti bahwa mereka harus berusaha dengan susah payah tanpa membiarkan diri didorong oleh usaha meraih kemuliaan yang hampa dan keserakahan yang murahan dan hanya mencari keuntungan diri saja.

Kesenian dan Misteri Sabda Menjadi Daging

      Dalam hukum Perjanjian Lama sangat ditegaskan tentang penyembahan akan Allah yang tak kelihatan melalui patung pahatan ataupun patung tuangan. Namun setelah misteri penjelmaan hal ini menjadi suatu tantangan bagi umat kristiani. Karena Allah yang dahulu tak kelihatan kini menjadi nyata secara kasat mata. Dari misteri ini muncullah dorongan untuk melihat keindahan terkandung dalam diri Dia yang menjadi manusia biasa. Dan dari sinilah terpenuhi suatu dimensi baru tentang keindahan. Dalam Kitab Suci banyak peristiwa dan kejadian yang diungkapkan atau digambarkan oleh para pengarang dengan beberapa seni yang sangat mencolok di dalamnya.
      Bab-bab ini sangat kaya akan iman dan keindahan terutama mereka yang dengan sendirinya mengalami apa yang digambarkan atau dilukiskan. Memang pada zaman itu tidak semua orang dapat membaca dan menulis pewartaan yang didengar. Akan tetapi melalui karya-karya seni, mereka dapat merefleksikan misteri yang tak terduga yang ada di dunia.

Perjanjian yang Subur antara Iman dan Kesenian

            Setiap intuisi artistik yang sejati melampaui apa yang ditangkap oleh pancaindra dan mencapainya dalm kenyataan sambil berusaha menafsirkan misterinya yang tersembunyi. Keindahan yang tercermin dalam perasaan intensif seniman-seniwati, mendorong mereka untuk mengungkapkannya dalam kreatifitas mereka berupa lukisan dan pahatan yang dipancarkan lewat penglihatan jiwa mereka. Mereka yang beriman tak dapat menemukan sesuatu yang asing dalam hal ini. Mereka tahu bahwa mereka telah menangkap cahaya yang terpancar dari Allah sendiri.  Kalau kenyataan terdalam banyak hal selalu melampaui daya tangkap manusia, maka betapa unggullah Allah dalam misteri yang tak terduga. Dalam spiritualitas Timur, Kristus dilukiskan sebagai Keindahan yang amat luhur.
      Tiap bentuk kesenian sejati dengan caranya sendiri merupakan jalan untuk memasuki kenyataan batin manusia dan dunia. Oleh karena itu, pendekatan yang sepenuhnya berlaku bagi alam iman yang memberi makna bagi pengalaman manusiawi. Itulah sebabnya mengapa Injil sejak awal mula wajib membangunkan minat dan perhatian seniman-seniwati dan waspada terhadap setiap penampakan keindahan batin segala sesuatu.

Asal Mula

      Kesenian yang pertama dijumpai oleh para seniman-seniwati merupakan buah dari dunia klasik dengan prinsip-prinsip estetis yang bernilai. Dalmbidang kesenian, iman mewajibkan umat kristiani untuk membeda-bedakan dan menilai dan tidak diperbolehkan suatu sikap penerimaan yang tidak kritis tentang hal itu.
            Oleh karena itu kesenian inspirasi Kristiani mulai dalam nada lebih rendah, terikat ketat pada keperluan bagi umat beriman untuk menciptakan secara cermata lambang-lambang berdasarkan Kitab Suci, guna mengungkapkan misteri-misteri iman maupun kode-kode perlambangan.
            Dengan demikian mereka dapat mengidentikkan diri mereka, khususnya dalam misteri penganiayaan serba sulit. Lambang-lambang seperti; ikan, roti dan gembalaan atau domba merupakan jejak-jejak pertama kesenian.
      Pada saat kaisar Konstantinus mengijinkan umata kristiani menyatakan diri dalam kebebasan yang sepenuhnya, kesenian menjadi upaya yang sangat istimewa sebagai ungkapan iman. Bangunan-bangunan beberapa basilika yang agung dan megah mulai tampil ke muka dan di situ hukum-hukum marsitektur dunia yang kafir ditampakkan lagi dan sekaligus dimodifikasi. Alasannya adalah unutk memenuhi tuntutan-tuntutan bentuk baru ibadat.
      Sementara para arsitek merancang bangun-ruang ibadat, tahap demi tahap keperluan untuk berkontemplasi dan untuk menyajikannya secara jelas dan tegas kapada umat sederhana, mengantar mereka kepada lukisan dan pahatan bentuk-bentuk awal. Di sana muncul juga unsur-unsur kesenian pertama dalam kata dan suara.
      Beberapa tokoh penting dalam sejarah gereja awal juga mengembangkan puisi kristiani yang bermutu tinggi bukan saja hanya sebagai teologi tetapi sebagai satra. Karya puisi mereka sangat positif dalam menilai bentuk-bentuk yang merupakan warisan dari pengarang-pengarang klasik. Antifon-antifon dalam mazmur ibadat juga merupakan landasan bagi perkembangan yang selaras dengan seni musik kudus yang paling asli.
      Lagu-lagu atau nyanyian-nyanyian gregorian beserta modulasi-modulasi dari abad ke abad harus menjadi seni musik iman Gereja dalam perayaan liturgi misteri-misteri kudus. Dengan demikian, yang “indah” berpadu dengan yang “benar” sehingga melalui kesenian pun jiwa-jiwa dapat diangkat dari alam rasa-perasaan kepada alam abadi.
      Pada abad-abad pertama muncullah perdebatan sengit dalam Gereja yang dalam sejarah disebut sebagai “krisis ikonoklasme”. Alasan  perdebatan-perdebatan ini disebabkan oleh adanya gambar-gambar kudus atau lukisan-lukisan berupa wajah atau gambar Yesus dan Maria yang diangga sebagai suatu penyembahan kepada gambar semata.
            Namun dalam sebuah konsili diputuskan atau ditetapkan bahwa benda-benda yang berupa lukisan-lukisan atau hasil karya seni semacam ini serta penghormatannya dianggap sebagai peristiwa sejarah bukan hanya sekedar bagi iman saja bahkan kebudayaan sendiri.
      Untuk mengatasi perdebatan ini, uskup mencoba mengajak para haidirin untuk bersama-sama melihat misteri penjelmaan Sabda. Dalam peristiwa ini, Allah telah datang ke dunia secara jelas, nyata dan lelihatan. Peranan dalam kehadiran Sabda yang menjadi daging ini, Ia bertindak sebagai perantar atau jembatan yang menjembatani yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Maka menurut analogi, penyajian misteri dapat digunakan dalam logika berupa lambang-lambang dan sebagai tanda pengundang rasa-perasaan akan misteri itu sendiri.  Ikon yang dihormati bukan sekedar karena lukisan itu semata-mata tetapi mau menunjukkan apa yang disajikan dibalik itu semua.

Abad Pertengahan

      Pada abad-abad sesudah itu, banyak disajikan perkembangan kesenian kristiani yang amat besar. Di Timur, kesenian berupa ikon tetap berkembang dengan mematuhi norma-norma teologis dan estetis yang bermakna dan juga didukung oleh keyakinan bahwa dalam arti tertentu ikon itu dianggap sebagai sakramen.
            Apabila ditinjau sacara analog dengan yang berlangsung dalam sakramen, ikon menghadirkan misteri Inkarnasi dalam salah satu aspeknya. Inilah alasannya mengap ikon sangat dihargai dan dihormati dalam Gereja dan oleh Gereja.
            Para seniman-seniwati di Barat mulai dari sudut pandang yang sangat berlainan, tergantung pada keyakinan-keyakinan alam masa mereka yang melandasi kesenian.  Pusaka artistik yang dibangun dari zaman ke zaman merangkum secara luas karya-karya kudus yang penuh inspirasi hingga sekarang pun masih ada saksi-saksi yang selalu dipenuhi dengan rasa kagum rasa kagum. Kekaguman ini pertama-tama karena, adanya bangunan-bangunan ibadat yang megah. Dari padanya muncullah berbagai corak yang banyak terkenal dalam sejarah kesenian.
      Kekuatan dan kesederhanaan corak Romaneska terungkap dalam pelbagai katedral dan vihara-vihara, lambat-laun berkembang menjulang tinggi ke arah corak Gotik dengan penuh kegemilangan. Bentuk-bentuk ini tidak hanya menggambarkan bakat istimewa seorang seniman-seniwati tetapi merupaka jiwa rakyat. Suatu kebudayaan yang utuh kendatipun disertai denga batas-bats yang tak terelakkan pada segala sesuatu yang bersifat manusiawi, telah diresapi dengan Injil. Pada saat teologi menghasilkan “summa” St. Thomas, kesenian Gereja mencetak bahan menurut cara, yang mengantar umat pada sembah sujud kepada misteri. Selain itu, penyair yang mengagumkan dapat menyusun puisi kudus bagi surga dan dunia, telah mengarahkan tangan mereka seperti seorang seniman-seniwati melukiskannya dalam Komedi Ilahi.

Humanisme dan Renaissance

            Iklim budaya pendukung, yang manghasilkan kesuburan artistik yang istimewa; Humanisme dan Renaissance, memiliki pengaruh yang relevan juga atas cara kaum seniman-seniwati periode itu mendekati tema religius. Tentu saja inspirasi mereka, seperti gaya mereka yang berbeda, setidak-tidaknya ada yang terbaik diantara mereka.
      Para seniman-seniwati dapat menunjukkan kelimpahan dan kemewahan bakat istimewa yang sering kali dibebani oleh kedalaman rohani yang agung. Seorang seniman yang terkenal dalam seni suara dapat membentangkan suatu drama dan misteri dunia dari Penciptaan samapai Peradilan yang Terakhir. Dan juga sambil menampilkan wajah Allah Bapa, Kristus Sang Hakim, dan manusia dalam perjalanan hidupnya yang penuh dengan banyak tantangan, susah dan derita.
            Dalam karya senia yang lain, seniman-seniwati mau menunjukkan persekutuan Gereja yang suka menyambut siapa saja secara universal; Bunda Gereja sebagai pendamping perjalanan semua orang dalam usaha mereka mencari Allah. Hal istimewa ini merupakan ungkapan yang jelas sekali nampak kuat bagi kesenian kudus yang menjulang tinggi dengan menampilkan keunggulan estetis yang tidak akan lenyap. Justru semakin menandai kesenian kudus atas dorongan Humanisme dan Renaissance. Arus-arus budaya yang berlanjut ialah perhatian yang meningkat terhadap apapun yang manusiawi di dunia dan dalam sejarah.

Menuju Dialog yang Dibaharui

            Pada zaman modern, selain Humanisme kristiani yang tetap mengahsilkan karya-karya kebudayaan dan kesenian yang relevan, ada pula corak humanisme lain yang diwarnai oleh ketidakhadiran Allah dan sering berlawanan dangan Allah, lambat-laun telah menegaskan diri. Terkadang suasana itu  mengakibatkan pemisahan antara dunia kesenian dan dunia iman dan pada akhirnya bisa terjadi pemerosotan minat dan perhatian dari seniman-seniwati terhadap tema-tema religius.
            Namun tiada hentinya Gereja memantapkan penghargaan yang besar terhadap nilai itu sendiri. Bahkan melampaui ungkapan-ungkapan religiusnya yang khas, kesenian yang sesungguhnya mempunyai kedekatan yang erat dengan dunia iman dalam situasi tertentu, kebudayaan dan Gereja saling berjauhan. Akan tetapi kesenian semacam menjadi jembatan ke arah pengalaman religius.
      Oleh karena itu sanagt jelas mengapa Gereja sanangat peduli akan dialog dengan kesenian. Di samping itu juga diupayakan agar pada masa sekarang ada suatupersekutuan yang baru dengan para seniman-seniwati. Sehingga dalm kerjasamanya Gereja sangat mengharapkan “penampakan” keindahan yang dibaharui di zaman ini, lagipula jawaban-jawaban yang sesuai dengan keperluan-keperluan yang khas dalam persekutuan kristiani.

Dalam Semangat Konsili Vatikan II

      Konsili Vatikan II meletakkan dasar yang dibaharui antara Gereja dan kebudayaan disertai dengan implikasi-implikasi yang langsung bagi dunia kesenian.. inilah hubungan yang ditawarkan dalam persahabatan, sikapm terbuka dan dialog. Dalam Kontitusi Pastoral “Gaudium et Spes” para bapa konsili menekankan relevansi yang besar pada kesusastraan dan kesenian dalam hidup manusia.
            Keduanya baerusaha kodrad manusia yang khas dalam persoalannya maupun pengalamannya dalam upaya mengenal serta menyempurnakan dirinya maupun dunia. Keduanya mencoba menyingkapkan situasi manusia dalam sejarah dan di seluruh dunia dengan menggambarkan duka-derita maupun kegembiraannya. Selain itu juga kebutuhan-kebutuhan maupun daya kekuatannya serta membayangkan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Berdasarkan hal ini, para bapa konsili menyampaikan salam sejahtera dan menyerukan kepada seniman-seniwati bahwa dunia tempat kediaman manusia sangat membutuhkan keindahan agar jangan tenggelam dalam keputusasaan.
      Keindahan seperti kebenaran, membawa kegembiraan kepada hati manusia dan merupakan buah yang amat berharga yang tahan menghadapi erosi masa. Buah ini menyatukan angkatan-angkatan dan memampukan meraka bersatu dalam kekaguman.
      Para seniman-seniwati juga bertindak sebagai pengemban “pelayanan yang luhur”, bila dalam arti tertentu karya-karya mereka mencerminkan keindahan Allah yang tidak ada batasnya dan mengangkat budi dan hati rakyat kepada-Nya. Berkat seniman-seniwati pula kemuliaan Allah tampil sebagai suatu hal yang sangat cemerlang dan pewartaan Injil makin jelas bagi daya tangkap manusia. Karya ahli sejarah teologi juga kiranya tidak lengkap jika ia tidak memberikan perhatian yang semestinya kepada karya seni karena di sini bukan hanya terkandung penampilan-penampilan estetis saja tetapi juga sumber-sumber teologi yang sesungguhnya.

Gereja Memerlukan Kesenian

            Gereja sangat membutuhkan kesenian dalam menyampaikan amanat yang dipercayakan oleh Kristus kepadanya. Kesenian harus memungkinkan dapat ditangkap dan sedapat mungkin mempunyai daya tarik, dunia roh, dunia yang tidak dapat dilihat dan kenyataan Allah sendiri. Oleh karena itu, kesenian harus menerjemahkan ke dalam istilah-istilah yang penuh makna kenyataan yang dalam dirinya tidak dapat dikatakan.
            Kesenian mempunyai kecakapan yang unik, mengangkat salah satu aspek amanat dan menerjemahkannya ke dalam warna-warni, bentuk-bentuk dan suara-suara, yang memperkaya intuisi merek yang memandang atau mendengarkan. Gereja secara khas memerlukan seniman-seniwati dalam berkarya pada tingkat sastra, seraya menggunakan kemungkinan-kemungkinan gambar-gambar yang tiada habisnya serta kekuatan simbolis dari itu semua.
            Gereja juga membutuhkan para ahli musik juga karena betapa  banyak karya Roh Kudus telah dikomposisi dari abad ke abad oleh tokoh-tokoh yang penuh citarasa misteri itu. Lagu-lagu dan mazmur-mazmur yang sangat merdu juga penuh keindahan sebagai suatu seni yang menghantar para pengguna menuju ibadat yang sunnguh layak bagi Allah. Selain itu, Gereja sangat membutuhkan para arsitektur, sebab butuh juga tempat-tempat atau ruang-ruang untuk menghimpun umut kristiani demi merayakan misteri-misteri keselamatan. Sesudah kehancuran yang dahsyat pada Perang Dunia terakhir dan berkembangnya banyak kota, angkatan para perancang bangunan-bangunan tampil cakap dalam menanggapi tuntutan-tuntutan ibadat kristiani, serta meneguhkan bahwa tema religius masih dapat mengilhami perancang arsitektur sakarang ini. Maka tidak jarang para arsitek membngun gereja-gereja serta tempat-tempat doa lainnya dengan baik dengan karya-karya seni mereka yang sejati.

Benarkah Kesenian Memerlukan Gereja ?

            Dalam penjelasan di atas dijelaskan secara singkat bagaimana Gereja sangat membutuhkan kesenian. Namun dari situlah muncul suatu pertanyaan baru apakah benar jika dikatakan bahwa kesenian membutuhkan Gereja? Para seniman-seniwati terus-menerus mencari makna tersembunyi dari berbagai macam hal dengan jerih-payah merek. Tujuannya yaitu agar merek dapat berhasil mengungkapkan dunia yang tak dapat diungkapkan. Dengan demikian, betapa banyaknya sumber inspirasi yang merek korbankan yakni agama.
            Fakta mengungkapkan bahwa tema religius termasuk hal yang paling sering dibahas oleh seniman-seniwati setiap masa. Gereja selalu mempunyai daya tarik terhadap kekuatan-kekuatan kreatif merek dalam menafsirkan amanat injil dan menegaskan penerapannya yang saksama dalm hidup persekutuan kristiani. Akhirnya merupakan berkat yang besar untuk mengerti makna manusia serta citra da keotentikkannya. Inkarnasi Sabda Allah dan hidup kristiani menyajikan kepada seniman-seniwati ckrawala yang khas kaya dalam insprirasi. Betapa miskinnya senu jika meninggalkan tambang Injil yang tak dapat dihabiskan.

Seruan kepada Seniman-Seniwati

            Dalam suratnya, paus menyapa para seniman-seniwati dunia dengan maksud untuk menyatak penghargaannya kepada mereka. Karena mereka telah membantu mengkonsolidasikan kemitraan yang lebih konstriktif antara kesenian dan Gereja. Beliau mengajak agar mereka kembali menemukan kedalaman dimensi rohani dan religius, secara khusus pada kesenian dalam bentuk-bentuk yang paling luhur di setiap masa.
      Maksudnya adalah mau menyerukan Sabda yang tertulis maupun lisan kepada seniman-seniwati. Inti seruannya adalah bahwa melampaui pertimbangan-pertimbangan fungsional; kemitraan yang erat telah berlangsung antara Injil dan kesenian berarti: para seniman-seniwati diajak untuk menggunkan inuisi yang kreatif, guna mamasuki jantung misteri Allah yang Berinkarnasi, sekaligus memasuki misteri manusia.
      Dalam arti tertentu orang-orang tidak mengenali diri. Yesu Kristus tidak hanya mewahyukan Allah. Tetapi sepenuhnya mewahyukan manusia kepada manusia. Semua orang dipanggil untuk memeri kesaksian namun yang menentukan adalh pria maupun wanita yang telah membaktikan hidup kepada kesenian untuk menyatakan segala kepiawaiannya bahwa dalam Kristus dunia telah ditebus. Alam ciptaan sangat mambutuhkan pewahyuan anak-anak Allah melalui kesenian dan dalam kesenian dan itulah tugas bagi para seniman-seniwati.

Roh Pencipta dan Inspirasi Artistik
     
      Hal ini sangat berkaitan erat dengan Roh Allah yang ada sebelum dunia dijadikan. Roh merupakan pelaksana Seni misterius bagi alam semesta. Para seniman-seniwati diharapkan dapat menerima kurnia dan inspirasi kreatif yakni titik tolak setiap karya seni yang sejati.
      Hendaknya mereka dapat mengerti juga bahwa dorongan yang datang dari luar maupun dari dalam dapat mengilhami bakat mereka. Roh juga turut campur tangan dalam menggerakkan para seniman-seniwati terutama berupa nafas, kekuatan, semangat, kemampuan dan sebagainya. Tanpa Roh, para seniaman seniwayi pasti tidak akan berbuat apa-apa. Maka sangat tepat dikatakan bahwa pada saat-saat tertentu, manusia dapat mengalami rahmat yang dapat melampaui segala kemampuannya.

Keindahan yang Menyelamatkan

            Harapan bagi seniman-seniwati ialah agar mereka dapat memperoleh pengalaman khas intensif akan inspirasi yang kreatif. Diharapkan juga keindahan-keindahan yang mereka salurkan kepada angkatan-angkatan yang akan datang menimbulkan rasa kgum yang begitu besar dalam diri para penerus. Keindahan merupakan kunci untuk memasuki misteri dan panggilan ke arah yang adisemesta.
            Keindahan mengajak untuk menikmati hidup dan memimpikan masa depan. Itulah sebabnya mengapa keindahan hal-hal yang diciptakan tidak pernah memuaskan sepenuhnya. Maka batapa pentingnya keindahan yang diciptakan oleh Allah dan juga yang dikaruniakan kepada manusia untuk mengembangkan apa yang telah ada menjadi indah berkat karya dan hasil dari karya seni itu sendiri.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar